Beranda Sinopsis Sinopsis Angel’s Last Mission: Love Episode 3, Drama Korea

Sinopsis Angel’s Last Mission: Love Episode 3, Drama Korea

Sinopsis Angel’s Last Mission: Love Episode 15-16 Drama Korea
Angel,s Last Mission: Love

Topnes.net – Sinopsis Angel’s Last Mission: Love lanjutan di Episode 3, lanjutan sinopsis Angel’s Last Mission: Love eps kali ini Pada saat Lonceng gereja berbunyi lagi. L menghentikan waktu.

Kemudian terbang di dekat mobil Yeon Seo. Tetapi pintu gereja ditutup. Dan diblokir.

L membawa mobil Yeon Seo ke jalan-jalan. “Aku seharusnya tidak melakukan itu.”

L mendekati Yeon Seo yang masih di dalam mobil. Dan dia dengan lembut menyentuh pipi Yeon Seo. Tepat pada saat itu, bel berbunyi nyaring.

Mendengar itu, L segera mendongak dengan ekspresi terkejut.

Kemudian kilat memukulnya. L jatuh tepat di depan gereja. Dan ketika dia melihat pintu yang telah ditutup, dan tidak bisa dibuka sama sekali. Dia takut dan berteriak.

Ji Woo tiba di jalan tempat Yeon Seo jatuh. Segera, dia langsung meminta bantuan. Lalu dia mendekati mobil Yeon Seo.

Ji Woo menggenggam tangan Yeon Seo dengan erat. Dan Yeon Seo menanyakan, siapa itu.

Segalanya baik- baik saja. Aku disini,” kata Ji Woo, menenangkan. Dan Yeon Seo pun tertidur.

Hoo membuka kan pintu gereja menggunakan kekuatannya. Dan L masuk ke dalam mengikutinya.

Yeon Seo di bawa masuk ke dalam mobil ambulans.
Malaikat Dan, Anda selalu melanggarnya dan melampaui batas Anda.

Dirumah sakit. Di dalam ruang UGD, Yeon Seo di obati. Sementara diluar Ji Woo menunggunya dengan gelisah.

Dirumah sakit. Didalam ruang UGD, Yeon Seo menjalanin proses donor mata.

Ruangan putih tersebut kembali berubah menjadi gereja.

Dan dengan heran, L membuka matanya, lalu dia melihat ke sekelilingnya. Kemudian dengan terkejut, dia memeluk dirinya sendiri.

L berdiri dengan kegirangan. Dan dengan kesal, Hoo menceramahi L yang terlalu sering membuat kekacauan, sampai dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya lagi.

Lalu Hoo menyentak dahi L dengan jari telunjuknya, dan tertawa.

L dengan bersemangat menjelaskan bahwa dia bersedia melakukan apapun. Jika dia disuruh memindahkan gunung, melewati lautan, itu tidak masalah.

Dan kemudian dengan tenang, dia menanyakan apa misinya.
Perban yang menutupi mata Yeon Seo dibuka.
“Cinta,” jawab Hoo. Dan L merasa bingung.

Yeon Seo membuka matanya secara perlahan, kemudian dia melihat ke sekitarnya. Dan dia melihat keluarga bibinya, yaitu keluarga Ny. Choi.

Misi L adalah untuk menemukan cinta bagi seseorang yang telah di tentukan.

Ditaman. L mengulurkan tangannya ke arah matahari, dan tersenyum senang. Kemudian dia bermain- main dengan bayangannya sendiri.

Tepat disaat itu, seorang anak tidak sengaja menabrak L, dan si anak meminta maaf. Dengan ramah, L tersenyum dan menjawab tidak apa- apa.

Kemudian sebuah daun jatuh ditangan L. Daun itu bertuliskan misi yang harus L kerjakan. Rumah sakit Gildam, kamar nomor 502. “Cinta? Itu gampang. Aku akan menemukannya,” kata L dengan yakin sambil memberikan hormat ke arah langit.

Di rumah Sakit Yeon Seo menatap langit sore yang kemerahan di luar jendela. Dan kemudian, Tuan Choi bertanya bagaimana dengan Yeon Seo, apakah Yeon Seo dapat melihatnya?

Ru Na mendekati Yeon Seo dan bertanya apakah Yeon Seo baik-baik saja. Dan melihat pakaian hitam yang dikenakan Ru Na, dia bertanya: “Mengapa kamu memakai pakaian hitam?” Tanya Yeon Seo, dan semua orang diam.

“Bawa Tuan Jo padaku!” Yeon Seo berteriak histeris, dan semua orang langsung keluar dari kamar.

Ny. Choi mengatai Yeon Seo sudah gila. Dan Tn. Choi menegurnya, karena tidak baik berkata kasar pada anak yang sakit. Tapi Ny. Choi tidak peduli.

“Pergilah tanpaku. Aku akan tinggal dengan Yeon Seo hari ini,” kata Ni Na. Dan Tn. Choi setuju. Tapi Ny. Choi tidak setuju sama sekali.

Ny. Choi memukul- mukul pelan dadanya. “Aku tidak tahu bagaimana aku melahirkan anak berhati lembut itu,” keluhnya.
“Dia mirip denganku, jadi dia berhati lembut,” balas Tn. Choi. Dan dengan tajam, Ny. Choi langsung menatapnya. Tapi Tn. Choi mengabaikan tatapan itu.

Dengan tertatih, Yeon Seo berjalan perlahan, karena tubuhnya masih sakit dan penglihatannya masih kabur. “Aku harus melihatnya sendiri. Aku tidak akan percaya sampai aku melihatnya. Aku menolak untuk mempercayai nya,” gumam Yeon Seo.

Ketika pintu lift terbuka, L bertemu dengan Yeon Seo yang keluar dari dalam lift. Dan ketika melihat Yeon Seo, ntah mengapa hatinya berdetak- detak. “Ada apa?” tanya L dengan bingung sambil memegang dadanya.

Tn. Choi menghampiri Tn Park yang meminum terlalu banyak alkohol. Dan dengan sedih, Tn.

Park menceritakan bahwa orang yang meninggal ini, yaitu Tn. Jo. Ia adalah orang yang sangat baik, setiap mereka bertemu, Tn. Jo akan tersenyum lembut kepadanya. Tn. Jo sering memberikan se-ton buah dan kue, sehingga kulkasnya masih penuh.

“Kita tidak bisa menyalahkan siapapun. Setiap orang bisa mati tiba- tiba. Pria berhati baik itu, aku yakin dia ada ditempat yang bagus sekarang,” kata Tn. Choi, menghibur.

“Aku akan mengingat semuanya. Jadi kamu bisa melupakan semuanya sekarang. Hal menakutkan, pengalaman kejam yang kamu alamin, dan ketika kamu bersalah. Lupakan semuanya dan beristirahat lah dengan tenang,” kata Tn. Park.

“Bersalah? Apa maksudmu dengan itu Tn. Park?” tanya Tn. Choi penasaran. Tapi Tn. Park tidak bisa menjawab, karena dia tertidur.

L mengikuti Yeon Seo. Disaat itu, beberapa orang membicarakan tentang Yeon Seo, mereka mengatakan bahwa Yeon Seo dan Ayahnya memperlakukan Tn. Jo seperti budak.

Namun Tn. Jo tetap baik dan memberikan kornea nya kepada Yeon Seo. Namun menurut gosip, sepertinya kecelakaan mobil itu disengaja.

Mendengar pembicaraan itu, Yeon Seo menatap tajam pada mereka. Dan menyadari kehadiran Yeon Seo, maka mereka semua pun langsung terdiam.

Yeon Seo masuk ke dalam ruang perkabungan, dan melihat itu Ny. Jung memberikan setangkai mawar putih ke tangan Yeon Seo. Lalu secara perlahan, Yeon Seo berjalan ke arah tempat Tn. Jo dan meletakan bunga itu diatas meja. Setiap orang yang berada disana memperhatikannya.

“Aku minta maaf. Aku telat, paman,” kata Yeon Seo dengan pelan.

Yeon Seo kemudian teringat kembali perkataan Tn. Jo yang ingin melihatnya bersinar lagi seperti dulu, satu kali saja. Dan mengingat itu, Yeon Seo memberikan senyum lebar ke arah foto Tn. Jo. Namun setiap orang yang berada disana, mereka tidak mengerti arti senyum Yeon Seo, jadi mereka mengatainya aneh.
L yang melihat itu, dia menutup mulutnya terkejut. Mungkin dia menyangka Yeon Seo jahat, karena tersenyum pada orang yang sudah meninggal, bukannya bersedih.
Yeon Seo seperti ingin menangis. Tapi walaupun begitu, dia terus memberikan senyum terbaik nya kepada Tn. Jo. Seperti apa yang Tn. Jo ingin kan.

Yeon Seo berjalan dengan perlahan, ke arah pintu keluar rumah sakit. Dan L memperhatikannya dari belakang.

Saat L berbalik pergi untuk menjalankan tugasnya. Seorang perawat berpapasan dengannya. Perawat tersebut berbicara di telpon mengenai pasien di kamar 502 yang menghilang setelah pergi ke ruangan berkabung, dan dia sedang mencarinya. Mendengar itu, L merasa terkejut.
“Rumah sakit, kamar 502. Lee Yeon Seo?” gumam L, kaget.

Ji Woo datang ke rumah sakit, dan dia berpapasan dengan Yeon Seo yang baru keluar dari dalam rumah sakit. Tapi dia tidak melihatnya.

Ji Woo menghubungin seseorang dan menanyakan nomor kamar Yeon Seo. Lalu dia menanyakan hasil operasi Yeon Seo. Setelah itu, dia mengucapkan terima kasih dan mematikan telpon.

Yeon Seo masuk ke dalam taksi. Dan ketika si supir bertanya kemana tujuannya. Yeon Seo menjawab,” Bawa aku pulang ke rumah.”

Sepanjang perjalanan, Yeon Seo memandangin pemandangan kota disebelahnya. Tapi saat lampu penerangan menyinarinya, dia menutup jendela menggunakan tangannya dan memejam kan matanya.

Ji Woo mengetuk pintu kamar rawat Yeon Seo, tapi tidak ada jawaban. Jadi dia masuk ke dalam begitu saja. Dan dia merasa heran, karena ruangan Yeon Seo sangat gelap dan Yeon Seo tidak berada disana.

Sesampainya dirumah. Yeon Seo masuk ke dalam kamar nya. Dia memperhatikan foto keluarganya yang dipotret oleh Tn. Jo.

Kemudian dia membuka laci didalam kamarnya, mengambil CD video ballet nya yang selama ini di rekam oleh Tn. Jo.

Yeon Seo menyalakan CD itu, dan menonton nya.

Flash back
“Yeon Seo, ketika aku tidak ada, maka Tn. Jo akan menjadi seperti Ayah mu. Mengerti?” tanya Ayah sambil merekam Yeon Seo dan Tn. Jo.

“Tidak. Kamu adalah Ayahku. Dan paman adalah paman,” jawab Yeon Seo. Mendengar itu, Tn. Jo merasa sedikit sedih.
Namun Yeon Seo langsung tersenyum kepadanya, dan dengan riang mengatakan, “Dia adalah Tn. Jo, orang yang paling ku cintai didalam dunia ini,” kata Yeon Seo. Lalu dia melompat dan memeluk Tn. Jo.

Dengan senang, Tn. Jo tertawa dan menangkapnya. Lalu mereka tertawa bersama.
Flash back end

Yeon Seo teringat pembicaraan terakhirnya dengan Tn. Jo.
“ Jika kamu memberiku sedikit waktu lagi, aku akan membawamu kembali ke tempat mu,” jelas Tn. Jo dengan lebih lembut.

Yeon Seo tersenyum pesimis. “Tempat ku? Bagaimana? Apa kamu akan memberiku mata? Membawaku kemana? Siapa yang bilang kamu bisa? Kamu pikir kamu siapa? Jika kamu bertingkah seperti Ayahku sekali lagi. Aku akan benar- benar memecatmu.”

Yeon Seo menangis. “Betapa beraninya kamu memberiku matamu? Siapa yang menyuruhmu untuk meninggal? Siapa yang bilang kamu bisa? Siapa yang bilang?! Siapa yang bilang kamu bisa meninggalkan ku dan pergi sendirian?!” teriak Yeon Seo histeris.

L berlari ke arah gereja, dia berteriak meminta Hoo untuk membuka kan pintu baginya. L mengendor- ngendor pintu dan menjelaskan,“Kamu tidak bisa melakukan ini. Ini tidak benar. Dia tersenyum di depan foto pendonor matanya.

Dia selalu berdarah dingin, dan tidak normal juga sekarang. Bagaimana bisa seseorang sepertinya mencintai? Aku ingin merubah misi nya. Berikan aku misi baru!” teriak L dengan frustasi.

Dini hari. Seorang Pria mendekati L yang sedang tertidur, dan memberikan uang kepadanya. Lalu dia memeriksa saku baju L seperti ingin mengambil sesuatu. Tapi dia tidak jadi dan langsung pergi dari sana, karena seorang polisi mendekati nya.

Si Polisi itu ternyata adalah Hoo yang sedang menyamar. Dia menyentuh pipi L, dan membangunkannya. Lalu dia duduk disebelah L. “Manusia akan cepat mati, jika mereka tidur di tempat yang dingin.”

L memeriksa Hoo. Dan dengan curiga dia kemudian bertanya, apakah Hoo sama dengannya, menjadi manusia dan menjalankan misi special. Mendengar itu, Hoo membalas bahwa ini mudah baginya, karena dia berpengalaman. Dan L memuji Hoo, dia merasa sedikit iri dengan Hoo.

L menceritakan tentang Yeon Seo. Seorang manusia buta yang setelah mengalami pengalaman hampir mati, dan kemudian bisa melihat lagi, maka apakah yang seharusnya manusia itu lakukan. Dan Hoo menjawab berterima kasih.

“Kamu berpikir begitu, kan? Tapi kepada pendonornya, seseorang yang selalu berada disisinya, dia memperlakukannya dengan kasar. Dalam kasus itu, bagaimana perasaan mu sebagai manusia?” tanya L.
“Meski begitu, bukankah kamu masih bersyukur?”

L dengan frustasi menceritakan perasaan nya mengenai Yeon Seo. Menurutnya dengan emosi Yeon Seo yang tidak stabil, dia tidak akan bisa mendapatkan cinta untuk Yeon Seo. Itu sangat tidak mungkin. Dan dia tidak bisa melakukannya.
“Kemudian kamu harus menyerah sekarang, dan berubah menjadi debu.”

L mengeluh, kenapa itu harus Yeon Seo, kenapa?! Dan sambil tersenyum, Hoo balas bertanya, kenapa L harus menyelamatkan Yeon Seo kemudian. Mendengar itu, L sama sekali tidak bisa menjawab, dan merengek putus asa.

“Terakhir, bersinar teranglah,” kata Hoo. Dan L bingung, tapi Hoo tidak menjelaskan maksudnya. Hoo menjentikan jarinya, dan seketika pakaian L berubah menjadi pakaian setelan hitam putih. Kemudian setelah itu Hoo menghilang.

“Sunbae. Sunbae?” teriak L kebingungan.

Ny. Jung masuk ke dalam kamar Yeon Seo, dan membangunkan Yeon Seo yang tertidur dilantai dengan CD kaset berserakan disekitar nya. Dan ketika Yeon Seo terbangun, Ny. Jung memberitahu Yeon Seo bahwa barusan mereka telah mengantarkan kepergian Tn. Jo.

Mendengar itu, Yeon Seo hanya menjawab dengan gumaman ‘mm.’
Ny. Jung kemudian menanyakan apakah Yeon Seo sudah memakai obat tetes mata, dan lalu dia menjawab sendiri bahwa tentu saja belum, karena obat tetes mata ada dengannya. Dengan paksa, Ny.

Jung kemudian mau memakai kan obat tetes mata itu. Tapi Yeon Seo menolak dan berteriak marah.

“Ini adalah mata Tn. Jo. Aku tidak peduli jika kamu kelaparan, sakit, tidur, atau tidak tidur sekalipun. Itu terserah kamu. Tapi matamu, kamu mendapatkannya dari Tn. Jo,” kata Ny.

Jung dengan nada keras dan tegas. Sambil memegang kepala Yeon Seo agar menatapnya.

“Aku tidak pernah meminta darinya,” balas Yeon Seo, acuh.
“Kemudian kamu bisa mengeluarkanya kan,” balas Ny. Jung.

Ny. Jung berdiri membelakangin Yeon Seo. Dia menangis. Lalu setelah itu, dia berbalik dan menatap kembali Yeon Seo. Dia menceritakan betapa specialnya Tn. Jo untuk mereka semua.

Bukan hanya merayakan ulang tahun mereka saja, tapi Tn. Jo juga merayakan ulang tahun anggota keluarga mereka.

Jadi bila Yeon Seo mendapatkan mata dari seseorang seperti itu, maka Yeon Seo tidak boleh menyia- nyiakannya.

“Jika kamu begitu menyukainya, mengapa kamu tidak memperlakukannya dengan baik ketika dia berada disini? Kamu melunjak karena Tn.

Jo disini. Semua karyawan membuat Tn. Jo melakukan pekerjaan berat dan membosankan. Dan kamu marah sekarang?” tanya Yeon Seo. Lalu dia berdiri tegak dan berjalan pergi.

“Kamu lupa? Pekerjaan berat dan membosankannya adalah kamu. Baiklah, kamu bisa memojokan ku semau mu. Itu cocok denganmu,” balas Ny. Jung.

Sebelum keluar dari pintu, Yeon Seo tiba- tiba merasa sangat pusing dan tidak bisa melangkah. Lalu dia terjatuh. Dan Ny. Jung langsung menghampirinya.
“Aku… aku tidak bisa pergi. Aku tahu tempat ini. Aku bisa melihat segalanya. Tapi kaki ku… kaki ku tidak bergerak,” kata Yeon Seo dengan raut syok. Dan dengan perhatian, Ny. Jung memeluk untuk menenangkannya.

Dokter menjelaskan bahwa Yeon Seo mengalamin trauma psikologis. Itu terjadi, karena seseorang merasa menderita dari kehilangan orang terdekat mereka.

Jadi orang itu tidak bisa melakukan apa yang biasa dia lakukan dengan seseorang tersebut.

Seperti seorang suami yang kehilangan istrinya yang sering bermain bowling dengannya setiap hari minggu. Ketika suami itu melihat bowling itu, dia mengalami serangan panik. Itu semua karena suami itu sangat dekat dengan istrinya.

Dan Dokter menjelasakan bahwa kondisi Yeon Seo semuanya normal, jadi tidak ada penyebab lain selain itu. Lalu dia menyarankan agar Yeon Seo banyak beristirahat.

“Aku tidak bisa melakukan hal yang biasa aku lakukan dengannya? Aku melakukan segalanya dengannya. Aku berlari, aku berjalan, dan makan dengannya. Segalanya.

Dan aku tidak bisa melakukan apapun sekarang? Walaupun… walaupun aku bisa melihat sekarang?” tanya Yeon Seo dengan sedih.

Selanjutnya di Sinopsis Angel’s Last Mission: Love Episode 4, Drama Korea.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

seven + seventeen =