Beranda Sinopsis Sinopsis Abyss Drama Korea Episode 2

Sinopsis Abyss Drama Korea Episode 2

Sinopsis Abyss Episode 10 Drama Korea
Drama Korea Abyss

Topnes.net – Sinopsis Abyss adalah drama korea yang ditayangkan oleh tvN Episode 2, cerita episode sebelumnya Min memegang pundak Se Yeon. “Aku tahu semuanya. Akulah, yang menghidupkanmu.”

Min menunjukkan bola abyss. Abyss itu bercahaya dan ada tulisan yang muncul. ‘Abyss menghidupkan yang mati menjadi bentuk jiwanya. Se Yeon pun menatap Min.

Lanjutan sinopsis Abyss Drama Korea Episode 2, Se Yeon terperangah. Dia tidak percaya pria di depannya adalah Cha Min. Se Yeon hendak pergi. Tapi dia terhenti mendengar Min menyebut semua mantan pacar Se Yeon.

Se Yeon ternganga. Se Yeon mengambil bola abyss dan memperhatikannya. Min melepas mantelnya dan memakaikannya pada Se Yeon.

Se Yeon menyela. Se Yeon melangkah pergi. Dia tidak memperdulikan penggilan Min.

Ji Wook dan det. Park baru keluar dari rumah duka.Ji Wook berjalan menunju mobilnya di parkiran. Hari masih saja hujan. Tiba-tiba Se Yeon menghampirinya.

Se Yeon mengambil kunci mobil dari kantong baju Ji Wook.

Ji Wook meraih tangan Se Yeon untuk menghentikannya.

Se Yeon menatap tangannya yang di pegang Ji Wook. Seketika dia teringat kejadian malam itu. Saat itu dia baru saja minum di dapur. Tiba-tiba seseorang menarik tangannya. Dia di seret. Kedua tangannya di ikat ke atas dan wajahnya di tutupi dengan kain hitam.

Se Yeon syok mengingat itu semua. Dia kehilangan kesadarannya dan hampir saja terjatuh.

Beberapa saat kemudian, Se Yeon sudah di bawa ke rumah sakit. Min menghampiri dokter untuk menanyakan kondisi Se Yeon yang belum juga bangun padahal sebelumnya dokter bilang tidak ada masalah dengan Se Yeon.

Sepertinya dokter sedikit kesal.

Dokter oun meninggalkan Min yang sangat mencemaskan Se Yeon.

Dua orang perawat menggosipkan Min tampan dan perhatian. Katanya orang matipun akan bangun untuk wajah itu.

Di pemakaman, peti mati Se Yeon sedang di uruk dengan tanah. Ayah Se Yeon menyerakan skopnya pada Ji Wook untuk bergantian. Ibu Se Yeon belum juga berhenti menangis. Ji Wook berhenti sebentar. Dia sepertinya memikirkan kejadian di samping mobilnya tadi.

Pak Park melakukan penghormatan pada mendiang istrinya di rumah. Dia meletakkan cutter di meja persembahan tepat di depan foto mendiang putrinya, Park Mi Jin.. Pak Park tersenyum.

Pak Park mengambil seragam sekolah putrinya yang masih bernoda darah. Dia menangis dan memeluk seragam itu.

Ji Wook kembali ke kantor jaksa. Dia tampak lelah. Seorang pegawai perempuan memanggilnya. Dia menyerahkan sebuah kotak berwarna biru langit.

Ji Wook menatap pegawai itu. Ji Wook menatap kotak di tangannya. Setelah di dalam kantor, Ji Wook membuka kotak itu.

Se Yeon tidak mempedulikan larangan Min agar tidak pergi ke pemakaman karena tidak akan mengubah apapun.

Ji Wook membongkar kuburan Se Yeon. Dia membuka peti mati Se Yeon dengan linggis. Ji Wook terkejut melihat peti matinya kosong.

Se Yeon dan Min mendatangi makam Se Yeon yang sudah rapi kembali. Se Yeon menatap nisannya. ‘Disini terbaring jiwa cantik yang hidup seperti bunga sakura’.

Min mengambil botol soju dari kantong hitam yang dia bawa. Se Yeon menyiramkan soju itu ke makamnya. Dia menghapus airmatanya.

Se Yeon dan Min datang ke rumah Se Yeon. Se Yeon menyuruh Min memakai kantong plastik yang sudah dipersiapkan sebelumnya untuk menutupi alas kaki mereka.

Min masuk perlahan-lahan namun dengan badan membelakangi posisi Se Yeon saat di bunuh. Se Yeon menemukan kartu nama miliknya yang bercecer di lantai. Tiba-tiba dua detektif masuk dan menyuruh Min dan Se Yeon pergi.

Min dan Se Yeon makan di restoran ‘Sup Pereda Pengar Yangyang’. Tapi Min sepertinya tidak nafsu makan. Sementara Se Yeon sangat terlihat sangat menikmati makanannya.

Cha Min dari tadi memperhatikan tingkah Se Yeon yang masih saja sombong.

Se Yeon mengambi dompet Min. Se Yeon menunjukkan ktp Min.

Min merebut ktp-nya dan memasukkannya lagi ke dompet.

Se Yeon melotot saat Min menyodorkan kartu kreditnya. Dia buru-buru menarik Min.

Se Yeon geregetan. Dia sampai menggeram. Sebelum keluar kafe, Se Yeon minta maaf pada penjaga kafe.

Se Yeon merebut dompet Min. Ia pun tersenyum misterius setelah menatap sesuatu di tubuh Min dan berkata untung kamu kaya, dan aku pernah jadi jaksa. Ikuti aku!

Se Yeon menyeret Min ke pegadaian. Dia melepas paksa jam tangan Min lalu memberikannya pada petugas.

Se Yeon melempar sandal itu di depan Min. Dia meminta Min melepas sepatunya. Dengan amat terpaksa Min menuruti kemauan Se Yeon. Sepatu Min pun ikut digadaikan.

Pak Park sedang mencuci taksinya malam-malam. Dia mengguyurnya sampai mengenai seorang pria yang sedang berjalan. Pak Park langsung meminta maaf.

Seorang pengantar paket mengantarkan sebuah amplop untuk Pak Park Gi Nam. Begitu pak pos pergi, Pak Gi Nam langsung membuka paketnya. Pak Gi Nam tampak terkejut. Amplop tadi berisi secarik kertas dengan tulisan entah apa dan sebuah sampel darah.

***

Min cuma bisa ternganga melihat tingkah tengilnya Se Yeon. Se Yeon mengambil sebotol soju (atau somaek mungkin) dan dua kaleng minuman di chiller. Mereka lalu membawanya ke kasir. Tapi saat di scan, ternyata makanan instan yang tadi di ambil Se Yon sudah kadaluarsa.

Se Yeon pura-pura marah. Namun Min memegang keningnya, baru menyadari akal bulus Se Yeon.

Min menyodorkan minuman kalengnya mengajak bersulang. Se Yeon mengaku kalau dia tahu toko itu sering menjual makanan kadaluarsa.

Min menenggak minumannya. Matanya tampak menerawang. Yeon-a.

Beberapa saat kemudian, Min dan Se Yeon sudah duduk di depan monitor yang memantau kamera cctv di temani si kasir.

Tiba-tiba di dalam rekaman, si kasir memutar kameranya ke dalam toko. Se Yeon langsung protes kenapa dia merekam bagian di dalam toko.

Bos minimarket datang. Si kasir menyuruh Min dan Se Yeon bersembunyi. Si bos sempat marah-marah pada kasir karena tidak rapi dalam menyusun produk. Setelah bos pergi, Se Yeon yang sudah akan pergi bertanya apa bosnya juga memeriksa minimarket pada malam itu.

***

Nyonya Eom marah-marah pada Pak Kim perihal Min yang jadi tersangka pembunuhan. Dia menyuruh Pak Kim untuk mengerahkan semua tenaga untuk membereskan masalah ini.

Nyonya Eom memukul meja. Bibi tampak menguping dari luar. Dia lalu masuk ke kamar entah siapa dan mengambil bungkusan baju Min yang berdarah dari bawah ranjang.

Selanjutnya, Min dan Se Yeon berjalan kaki ke restoran ayam goreng milik keluarga Se Yeon. Se Yeon memencet kode pintu dan mereka masuk. Min tampak menggaruk-garuk badannya.

Min menggulung celananya dan menggaruki kakinya.

Se Yeon melihat bercak-bercak merah di leher Min. Min sangat terkejut mendengar suara burung dari jam dinding. Dia sampai ketakutan memegangi pundak Se Yeon. Padahal jam itu Min yang belikan saat keluarga Se Yeon baru buka restoran.

Min menarik Se Yeon lalu menghadapkannya ke cermin. Min memutar balik badan Se Yeon menghadapnya.

Se Yeon mendorong kepala Min. Min dan Se Yeon tiduran di sofa dengan tisu toilet sebagai bantal. Min sudah tertidur sementara Se Yeon sedih menatap foto dirinya dan orangtuanya saat kelulusan.

Min ternyata belum tidur. Dia melihat Se Yeon sebentar.

Pak Gi Nam duduk di depan altar persembahan untuk istrinya sampai pagi. Dia mengingat kejadian malam itu.

Seorang pria tampak keluar dari taksi Pak Gi Nam. Pak Gi Nam ikut turun dan membuntuti pria tadi.

Pak Gi Nam menatap kertas dan sampel darah. Pak Nam lalu mengambil cutter dan alat tembaknya.

Min dan Se Yeon duduk di bangku pinggir jalan sambil makan kimbab segitiga. Min meletakkan kimbabnya yang baru dia makan satu gigitan.

Se Yeon mengambil uang dari dalam amplop.

Ayah dan Ibu Se Yeon masuk ke restoran. Ibu Se Yeon tertegun melihat bunganya yang mekar. Dia keluar melihat sekeliling. Min yang melihatnya tersenyum.

Min menghampiri Se Yeon yang menunggunya di minimarket. Se Yeon menuduhnya habis makan enak sendirian.

Mobil bos minimarket datang. Dia bertanya siapa mereka.

Beberapa saat kemudian, Min dan Se Yeon sudah nangkring di warnet untuk memeriksa rekaman blackbox mobil si bos. Tadi Se Yeon berlagak jadi jaksa dengan menyodorkan kartu namanya pada bos. Mereka melihat taksi Pak Gi Nam lewat di depan minimarket.

Ji Wook datang ke sebuah rumah sakit. Dia memaksa masuk ke sebuah ruang rawat VIP meski sudah di larang oleh pria yang sepertinya sekretaris orang yang sedang di rawat.

Si pasien langsung melek dan bangun. JI Wook merebut ponsel pasien lalu memberikannya pada si sekretaris.

Tiba-tiba dokter masuk memberitahu kalau pasien harus istirahat. Ji Wook tidak peduli. Dia tahu pasien membayar satu milyar won untuk pemeriksaan medis.

Ji Wook keluar dari rumah sakit bertepatan dengan beberapa ambulance yang baru datang. Dia memperhatikannya sekilas lalu tanpa sengaja mendengar ucapan seorang dokter yang bertanya pada rekannya apa dokter Oh Yeong Cheol belum menjawab teleponnya.

Ji Wook mendapat telepon dari J. Kali ini dia menjawabnya dan terdengar suara wanita meminta tolong.

Hee Jin bersembunyi di sebuah gudang. Wajahnya tampak kotor. Terlihat seseorang berjalan sambil menyeret pipa besi menuju tempat persembunyian Hee Jin.

Min membawa pesanan makanan dan minumannya ke meja. Dia membuka ponselnya yang sudah diperbaiki. Banyak panggilan tidak terjawab. Salah satunya dari Bibi Mi Sun dan lainnya dari nomor tidak di kenal.

Se Yeon datang. Dia menggerutu saat duduk ke kursi yang lumayan tinggi. Se YEon merebut ponsel Min.

Se Yeon membuka pembungkus hotdognya sambil mencibir kesedihan Min padahal sudah jelas dia dicampakkan Hee Jin yang membawa kabur uang muka untuk membeli rumah mereka di sebuah apartemen 50 lantai di Gangnam.

Se Yeon bilang akan jadi masalah kalau Hee Jin kembali sekarang karena Min saat ini adalah tersangka pembunuhan jaksa cantik.

Min malah marah-marah. Se Yeon jadi kesal.

Se Yeon menunjukkan rekaman blackbox yang kemarin. Hanya ada satu orang yang datang ke gang rumahnya saat waktu kejadian, yaitu taksi itu.

Min menunjuk pria tua yang juga lewat di depan minimarket. Se Yeon mengenalinya sebagai orang yang menumpuk kardus di bawah.

Seorang pria tua membawa tas di tangannya. Dia berjenggot, rambutnya agak panjang dan beruban, dan di lehernya tampak bekas luka bakar.

Dia menaiki tangga yang menuju sebuah gedung. Dia bertabrakan dengan seorang wanita hingga berkas-berkas yang di bawa wanita itu berhamburan. Pria tadi meminta maaf dan membantu memunguti kertas-kertas di lantai.

Se Yeon berada di sebuah toko pakaian. Dia mencoba setelan jas dan memakai kacamata. Dia mencoba meniru gaya Mi Do. Min hanya memperhatikan saja karena dia tidak tahu Mi Do itu seperti apa wujudnya.

Mereka lalu masuk ke kantor firma hukum Park and Jang. Seorang pegawai wanita berlari dan langsung membukakan pintu untuk mereka.

Se Yeon dan Min melihat-lihat kantor Mi Do. Min tampak kagum melihatnya.

Pegawai wanita yang tadi masuk dan bertanya berapa lama Mi Do akan tinggal di hotel.

“Hotel?” Se Yeon bingung mau menjawab apa. Dia dan Min saling melempar pandang. Min tanpa sengaja melihat tumpukan surat di meja.

Pegawai wanita menyahut. Dia bilang sudah mengemas semua barang Mi Do di Golden Palace karena katanya Mi Do akan pindah saat kembali.

Se Yeon membenarkan. Pegawai wanita itu pun pergi untuk mengurus tempat tinggal Mi Do. Se Yeon dan Min langsung menghela nafas lega.

Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di salah satu kamar di Goden Palace. Begitu masuk, Se Yeon langsung ternganga kagum.

Se Yeon duduk santai di kursi sementara Min membuka isi salah satu kardus. Dia menemukan foto Mi Do.

Se Yeon menunjuk gambar pria yang bersama Mi Do di foto. Se Yeon sampai menutup mulutnya karena tidak menyangka.

***

Det. Park sedang mencari berkas dari Ji Wook. Tiba-tiba dia dapat pesan teks dari Mi Do.

Det. Park langsung curhat pada rekannya, det. Cho.

Detektif Park pura-pura menyangkal. Tapi detektif Cho tidak percaya karena det. Park tidak pintar berakting.

Tapi nyatanya, dia melakukan juga apa yang diminta Se Yeon. Se Yeon yang tadinya mondar-mandir gelisah berharap det. park membalas jadi sangat senang.

Milik Park Gi Nam. Alamatnya 1,1 beon-gil,Bichang-ro, Sapyeong-dong. Ngomong-ngomong, dimana kamu sekarang? Apa kabarmu?

Se Yeon yang sangat antusias langsung memanggi Min. Min sendiri sedang asyik berendam di bathtub.

Se Yeon menggedor-gedor pintu. Se Yeon masuk sambil menutup sisi wajahnya. “Tidak! Maksudku. Aku dapat identitas si brengs*k itu. Keluarlah selagi aku masih baik,” ancam Se Yeon lalu ngacir.

Min terkejut mendengarnya. Dia mau bangun tapi tubuhnya masih penuh busa.

Det. Park galau menunggu pesan balasan dari Mi Do alias Se Yeon yang tak kunjung muncul di layar ponselnya.

Det. Cho menghampirinya. Dia mengajak bergabung dengan rekan-rekan lain di restoran barbeque. Det. Park yang kesal sengaja meninggalkan ponselnya di laci. Tapi dia balik lagi dan mengambilnya.

Min dan Se Yeon sampai di depan rumah Park Gi Nam. Se Yeon hendak mengetuk pintu tapi Min melarangnya.

Min mengetuk pintu berkali-kali tapi tidak ada tanggapan. Se Yeon nekad membuka pintunya tapi lagi-lagi Min menghentikanya.

Se Yeon tidak mempedulikannya. Dia masuk tanpa rasa takut.

Park Gi Nam sendiri sedang mengintai di depan sebuah rumah yang lumayan besar. Dia mengingat kembali bagaimana dia sudah membunuh si pembunuh berantai. Dia membaca lagi memo dari si pembunuh. Kamu kira sudah usai. Belum. Kamu berikutnya. Semoga menikmati rasa sakitnya.

Se Yeon dan Min masuk ke dalam rumah yang berdebu. Se Yeon masuk ke ruangan dimana Park Gi Nam biasa membuat persembahan untuk anak dan istrinya. Dia menghapus debu tebal yang menempel di foto keluarga Park Gi Nam. Se Yeon terkejut.

Min berteriak memanggil Se Yeon. Se Yeon langsung beranjak menuju ruangan dimana Min berada.

Sementara di tempat parkir, di dalam mobil, Pak Tua berjenggot sedang membunuh wanita yang ditabraknya.

Se Yeon terkejut saat melihat ruangan yang dindingnya dipenuh foto dan artikel kasus Eomsan-dong. Di antara banyaknya foto, ada foto dokter Oh Yeong Cheol.

Park Gi Nam masih mengintai dari dalam taksi. Sepertinya rumah di depannya adalah rumah dr. Oh.

Se Yeon tidak menyangka Park Gi Nam masih mengerjakan kasus Eomsan-dong setelah sekian lama. Dia mencopot foto dr. Oh.

Min merebut foto itu dan memperhatikannya. Wajahnya tampak terkejut. Min menggeleng.

Beberapa mobil polisi melaju di jalan raya. Det. Park menyuruh det. Cho yang menyetir agar bergegas.

Sementara di ruangannya, Ji Wook mendapatkan sebuah fax. Dia sedang memikirkan pesan dari det. Park barusan.

Pak, kami dapat identitas tersangka kasus pembunuhan Eomsan-dong. Sebelum jaksa Ko tiada, dia minta cek jadwal libur dokter Oh Yeong Cheol. Hampir cocok dengan tanggal kasus. Kami memeriksanya lebih dalam. Bukan hanya itu yang mencurigakan. Kami segera pergi. Jadi tolong segera datang dengan surat perintah.

Ji Wook mengambil kertas fax yang ternyata berisi profil dr. Oh.

***

Park Gi Nam berdiri di depan pintu pagar rumah dr. Oh. Sepertinya dia agak ragu untuk masuk. Tiba-tiba seseorang datang menghampirinya.

Min menceritakan apa yang dia alami sebelum datang ke rumah Se Yeon malam itu.

Min mengambil bola abyss dari sakunya. Mata Se Yeon membola mendengarnya.

Park Gi Nam menoleh dan melihat Pak Tua berjenggot. Pak Tua mendekatinya.

Park Gi Nam menolak. Tapi Pak Tua terus memaksanya dan menawarkan akan membuat jamuan untuknya. Meski Par Gi Nam berkali-kali mencoba menolak, tapi akhirnya dia mau masuk juga.

Terlihat di mantel Pak Tua ada bercak darahnya.

Min dan Se Yeon sama-sama terhenyak dengan kenyataan yang baru saja Min sadari.

Park Gi Nam masuk ke rumah dr. Oh. Dari belakang, dr. Oh yang sudah berubah wujudnya jadi Pak Tua, menatapnya tajam.

Selanjutnya di Sinopsis Abyss Drama Korea Episode 3

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

3 + seventeen =