Beranda Sinopsis Sinopsis Abyss Drama Korea Episode 1

Sinopsis Abyss Drama Korea Episode 1

Sinopsis Abyss Episode 10 Drama Korea
Drama Korea Abyss

Topnes.net Sinopsis Abyss adalah drama korea yang ditayangkan oleh tvN Episode 1, Cha Min berjalan di atap bangunan sambil minum sebotol soju. Kemudian dia naik ke pagar dan duduk di tepi gedung.

Cha Min mengambil ponselnya dan menatap wallpapernya yang bergambar dirinya dan seorang wanita. Dia mengelus foto wanita itu.

Seketika ingatan Cha Min terlempar ke suatu masa saat dia sedang duduk berdua di restoran dengan wanita itu. Dia membuka undangan pernikahannya yang bertuliskan Cha Min dan Jung Hee Jin.

Ia pun  tersenyum melihat undangan itu. Tertera tanggal 12 Mei 2019 sebagai tanggal pernikahan mereka akan di gelar. Cha Min memeluk Hee Jin dengan senyum bahagia.

Namun beberapa waktu kemudian, Cha Min terlihat keluar dari gedung kantornya dengan wajah panik. Dia berusaha menghubungi Hee Jin tapi nomornya tidak aktif.

Cha Min mengendarai mobilnya menuju apartemen Hee Jin. Dia menggedor-gedor pintu dan berteriak memanggil Hee Jin.

Sebuah pesan masuk ke ponselnya. “Maafkan aku. Aku pikir aku tidak bisa berbagi tempat tidur dan makanan dengan orang jelek sepertimu sepanjang sisa hidupku. Ayo kita batalkan pernikahannya.”

Cha Min menangis mengingat semua itu. Dia lalu berdiri dan berniat terjun dari gedung. Tapi belum apa-apa dia sudah ketakutan.

Tiba-tiba angin yang kuat menerpa Cha Min hingga dia terjungkal ke belakang. Beruntung kedua tangannya berhasil meraih tepian gedung. Dia bergelantungan di gedung itu dengan ketakutan.

Ko Se Yeon (Kim Sa Rang) mendatangi tkp kejahatan di sebuah rumah atap. Dia keheranan saat Cha Min tidak juga mengangkat teleponnya padahal tadi Cha Min sendiri yang menghubunginya beberapa kali.

Ponsel Cha Min yang tergeletak bergetar. Ada panggilan dari Se Yeon. Cha Min sekuat tenaga berusaha menyentuh tombol hijau di ponselnya. Dan dia berhasil.

Se Yeon kebingungan mendengarnya. “Kamu dimana? Apa yang terjadi? Kalau aku meneleponmu di momen yang tidak tepat, kita bisa bicara nanti saja.”

Se Yeon jadi kesal. Terdengar suara Cha Min yang berteriak panik. Dan tiba-tiba, dia melihat sebuah benda bercahaya terbang ke arahnya.

Benda itu menabrak tubuh Cha Min hingga Cha Min terlempar sangat jauh.

Se Yeon masuk ke dalam rumah atap bersama detektif Park Dong Cheol yang sedang memeriksa tkp.

Sementara Cha Min, dia terjatuh di suatu tanah luas yang sepi. Wajah dan tubuhnya penuh dengan darah. Di kejauhan, sepertinya Cha Min melihat sesuatu. Lalu terdengar suara seorang wanita.

Cha Min memejamkan matanya. Sepertinya dia meninggal. Lalu, muncul sosok samar dan bercahaya melayang tepat di atas tubuh Cha Min. Sosok pria itu mentatap wajah Cha Min.

Flashback sebelum kematian Go Se Yeon

Se Yoen membakar sebuah dupa. Sepertinya rumah atap yang didatangi Se Yeon adalah tkp pembunuhan. Dia memejamkan matanya dan berdoa untuk korban.

Terlihat darah berceceran di lantai. Se Yeon mengambil sebuah komik berjudul ‘Kehidupan Cinta Raja 7’ dari rak buku. Di dalamnya ada foto beberapa anak kecil. Se Yeon sedikit tersenyum melihatnya. Dia memasukkan foto itu ke dalam komik lagi, lalu memasukkan komik itu ke dalam tasnya.

Seorang pria berjas hitam, Seo Ji Wook, menghampirinya.

Se Yeon menyela.  Se Yeon yakin ini ulah si pembunuh berantai di lihat dari senjata pembunuhannya. Korban dibunuh sama seperti kasus pada tahun 2000.

Seorang dokter sedang mengoperasi pasiennya. Begitu selesai, dia langsung mencuci tangannya lalu keluar dari ruang operasi. Istri pasien menanyakan kondisi suaminya.

Si istri sampai jatuh terduduk saking leganya. Dia menangis haru. Anak laki-lakinya ikut menangis melihatnya.

Dokter yang sudah melangkah pergi akhirnya berbalik dan menenangkan anak itu dengan sebuah lolipop. Setelah anak itu berhenti menangis, dokter pun pergi.

Di lorong, dokter bertabrakan dengan seorang pria. Pria itu meminta maaf.

Se Yeon dan Ji Wook turun dari tkp. Se Yeon menawarikan diri untuk mengantar Ji Wook ke kantonya. Ji Wook merebut kunci mobil Se Yeon.

Mereka berhenti karena lampu merah. Se Yeon menatap lurus ke depan. Sementara si jaksa menyetel musik galau.

Ji Wook mengambil undangan pernikahan dari Cha Min di dashboard mobil.

Lampu hijau menyala. Ji Wook menjalankan mobilnya lagi,

Ji Wook tersenyum. “Kenapa? kamu kecewa karena sekarang dia diambil orang?” Goda Ji Wook.

Se Yeon tersenyum sinis.

Se Yeon melirik Ji Wook tajam. “Aku ini nggak pernah depresi ya. Siapa juga yang marah-marah.”

Se Yeon tertawa kesal. “Beneran! Kenapa kamu nggak percaya?”

15 jam sebelum kematian Se Yeon.

Cha Min baru bangun dari tidurnya. Penampakannya sudah berubah. Tapi masih ada bekas darah di bajunya. Dia berjalan menuju pintu.

Cha Min melihat siapa yang datang melalui layar interkom.

Cha Min berbalik dan melihat pantulan dirinya di cermin. Seketika dia ingat apa yang terjadi padanya semalam.

Dua buah cahaya melesat dari langit ke arah Cha Min lama dan jiwa Cha Min.

Jung So Min mengeluh kalau Se In Guk hanya bikin masalah saja di hari terakhir mereka di sana (bumi). Jiwa Cha Min memandangi kedua makhluk di depannya.

Seo In Guk tampak memperhatikan Cha Min lama. Sedangkan Jung So Min masih saja ngedumel sambil menyalakan ponsel di tangannya.

Seo In Guk tampak sedang melakukan sesuatu dengan sebuah bola yang berpendar cahaya. Jiwa Cha Min tidak lagi terlihat. Mungkin In Guk merubahnya jadi bola itu.

Seo In Guk meletakkan bola tadi di atas jantung Cha Min. Tapi tidak Cha Min tidak bereaksi.

Jung So Min heran. Dia yakin benda itu bekerja. Tapi kenapa Cha Min tidak bangun.

So Min memperhatikan wajah Cha Min. “Wajahnya tidak sama seperti waktu dia belum mati. Apakah percikan darah yang membuatnya jadi lebih ganteng?”

So Min mengelus-elus pipi Cha Min. Jantung Cha Min mulai bereaksi. Dia tiba-tiba membuka matanya hingga So Min dan In Guk tersentak kaget. “Ya ampun!”

Cha Min batuk-batuk. Dia kaget saat melihat So Min dan In Guk.

In Guk menjentikkan jarinya di depan wajah Cha Min.

Cha Min seketika berdiri. Dia menatap tangannya dan menyentuh rambutnya yang dirasanya berubah.

So Min dan In Guk ikut berdiri. “Biar aku jelasin supaya kamu lebih paham. Kamu mengalami kecelakaan. Tapi kami tidak mati. Kenyataannya, kamu terlahir kembali dengan wajah yang akan membuat sisa hidupmu jadi lebih mudah,” jelas In Guk.

So Min keheranan melihatnya.

Cha Min sibuk mengagumi wajahnya lewat kaca sebuah toko.

Cha Min menghampiri So Min dan In Guk. In Guk menanyakan benda yang dia berikan pada Cha Min.

Cha Min mengeluarkan bola merah dari kantong celananya.

In Guk dan So Min membenarkan. Cha Min menatap bola itu lalu mengelus rambut dan wajahnya. Dia tersenyum dan bilang kalau dia menyukai semua itu.

In Guk berbisik pada So Min. “Dia gila ya?”

Cha Min melempar bola abyss dari tangan kanan ke kiri. Kiri ke kanan.

So Min melihat sebuah bintang jatuh. “Itu bintang ke 100 juta yang jatuh.”

In Guk melihatnya.

Sebelum pergi, So Min mendekati Cha Min.

Kembali ke apartemen Cha Min. Ibunya terus menggedor pintu.

Di luar, nyonya Eom terus mengetuk pintu. “Cha Min! Ibu tahu kamu ada di rumah. Buka pintunya!”

Nyonya Eom beralih ke bibi. Nyonya Eom menatap tajam bibi.

Beberapa saat kemudian, bibi dan Nyonya Eom sudah duduk di dalam. Cha Min berusaha memakai kaus kakinya sambil menjelaskan kalau dia pernah satu jurusan dengan Cha Min.

Cha Min melihat bibi seolah mendapat ide. Chamin duduk di samping ibunya dan memakai kaus kaki yang sebelah lagi.

Cha Min berusaha meyakinkan bibi. Bibi manggut-manggut pada Nyonya Eom. Nyonya Eom menelepon nomor ponsel dan ternyata ponsel Cha Min ada di meja depan. Min beralasan kalau Cha Min pergi membeli sesuatu dan ponselnya tertinggal. Dia meminta bibi dan Nyonya Eom menunggu di sana sementara dia akan membawakan ponsel Cha Min.

Nyonya Eon menatap Cha Min sedikit curiga. Ponselnya berdering.

Mendengar percakapan ibunya barusan, Cha Min mendekati ibunya. Ibu jelas heran.

Cha Min tidak kehabisan akal.

Bibi memberitahu kalau Pak Kim sudah datang. (Sepertinya Pak Kim itu sopirnya)

Cha Min duduk lagi.

Nyonya Eom terus menatap Min. Nyonya Eom pun pergi bersama bibi. Cha Min bisa bernafas lega. Dia berubah murung lagi saat menatap wallpaper ponselnya.

Begitu masuk mobil, Nyonya Eom langsung menanyakan nomor seseorang pada Pak Kim. Pak Kim menjelaskan kalau nomornya tidak aktif, jadi tidak bisa dilacak karena pasti dimatikan.

Nyonya Eom masih menggerutu.

Min masih berusaha menghubungi Hee Jin. Tapi nomornya tetap tidak aktif. Dia berniat keluar dan memakai jasnya. Tapi jasnya kekecilan dengan ukuran tubuhnya yang sekarang. Min melepas jasnya lagi.

Se Yeon memeriksa foto-foto korban pembunuhan, juga detail keluarganya.

Ji Wook menghampiri Se Yeon dengan secangkir kopi di tangannya.

Se Yeon memijat tengkuknya.

Asisten Se Yeon masuk dan memberikan foto tamasya bulan lalu, ‘Tamasya Membangun Tim Musim Gugur 2018’. “Kamu cantik jaksa Ko,”pujinya lalu pergi.

Se Yeon menatap foto dengan senyuman. “Dia benar. Aku cantik di sini. Tapi ada wajah mengganggu di sebelahku.”

Se Yeon melipat fotonya agar Mi Do tidak terlihat. (Kayaknya Mi Do itu Park Bo Young yang pakai kacamata deh). “Aku tidak perlu diam-diam benci.”

Ponsel Se Yeon berbunyi. Dia mengangkatnya.

Se Yeon memakasi mantelnya.

Ji Wook tampak memperhatikan ucapan Se Yeon. “Ada apa? Petunjuk?”

Ji Woo tersenyum. “Apa aku seremeh itu? Kamu sungguh punya tersangka?”

Se Yeon nyengir. “Meskipun kolega, aku tidak bisa memberitahumu. Lagipula, aku punya firasat akan menemui keluarga yang di tinggalkan dengan kepala tegak. Jadi aku akan melampauinya.”

Ji Wook menatap kepergian Se Yeon. Begitu turun, Se Yeon memperhatikan ayah Park Mi Jin sebentar, lalu dia membuka payungnya. Se Yeon berjalan melewati Pak Park.

Tiba-tiba Pak Park memegang tangannya dan menghentikan langkahnya. Dia memberikan Se Yeon seembar kertas yang berisi resume investigasi. Se Yeon mengambil payungnya yang tadi sempat terjatuh, lalu pergi. Pak Park menatap kepergiannya.

Cha Min berjalan ke parkiran dengan payung dan topi hitam.

Cha Min tidak mau tahu. “Ku tunggu. Aku di depan kantormu.”

“Sudah ku bilang aku tidak di kantor. Aku sibuk. Tidak ada waktu mendengarkan cerita cintamu.” Se Yeon tertegun melihat Cha Min yang berdiri di depan mobilnya. “Hei! Kita bicara nanti lagi.”

Se Yeon menutup teleponnya lalu menghampiri Cha Min yang sudah berubah ganteng tentunya. Cha Min mengintip ke dalam mobil.

Se Yeon melepas topi Min dan langsung terpana melihat Cha Min. Dia menutup mulutnya yang menganga dengan topi Min.

Se Yeon mengembalikan topi Cha Min. Dia melihat setitik darah di tangan Cha Min dan jadi sedikit khawatir. Cha Min sendiri terus menatap Se Yeon dengan tertegun. Sepertinya dia tidak pernah di perlakukan seperti itu sebelumnya oleh Se Yeon.

Cha Min duduk di lobi kantor Se Yeon sambil melihat luka di pergelangan tangannya.

Cha Min langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dia juga menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Pandangannya tertumbuk pada spanduk yang tergeletak di lantai. Tanpa pikir panjang, dia langsung mengambilnya untuk menutupi tubuhnya.

Seorang pria menghampiri Cha Min. “Permisi. Kenapa kamu membawanya?”

Pria itu hendak menarik spanduknya tapi Cha Min langsung mundur. “Tidak! Tubuhku bukan untuk di pamerkan. Jika tidak cukup, mau tiga kali lipat?”

Mereka berdebat dan tarik-tarikan hingga malah baju Cha Min kancingnya lepas dan memamerkan dada Cha Min yang sixpack dan bercahaya. Pria tadi saja sampai takjub melihatnya. Cha Min jadi tontonan para pegawai wanita.

Cha Min merapatkan bajunya. Si pria tadi merasa bersalah. Dia memakaikan spanduk yang tadi.

Se Yeon datang membawakan handuk untuk Cha Min. Dia bertanya kenapa Min memakai spanduk itu. Min bilang dia tadi dapat masalah. Se Yeon tiba-tiba menarik tangannya.

Se Yeon mendengarnya.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Min. Min terkejut melihat isi dan foto di pesan itu. Terlihat di foto, Hee Jin berjalan di bandara bersama seorang pria.

Kamu liburan pra bulan madu? Calonmu cantik seperti biasa. Bagus Min.

Ji Wook datang menghampiri Se Yeon. Ji Wook kontan menatap Se Yeon.

Cha Min mencari-cari Hee Jin di bandara. Dia berlari kesana kemari tapi tidak melihat Hee Jin dimana-mana. Min berpapasan dengan seorang wanita yang memakai kacamata hitam. Mengira itu Hee Jin, Min memanggilnya dan melepas kacamata wanita itu.

Mi Do memakai kacamatanya lagi lalu pergi. Di lobi bandara, dia mendapat telepon dari dokter bedah plastik.

Hee Jin duduk di kursi tunggu sambil bercermin. Seorang pria bertopi menghampirinya.

Cha Min menerobos antrian calon penumpang. Dia berkata kalau dia sedang mencari seseorang. Beberapa saat kemudian…..

Kami mencari penumpang bernama Jang Hee Jin. Jika Anda Jang Hee Jin berusia 28 tahun, tolong datang ke bagian informasi di jalur F lantai pertama.

Dan anehnya, Hee Jin sudah tidak ada di kursi tadi. Yang tertinggal hanyalah koper merah miliknya.

Se Yeon mendekati meja dan membuka album foto yang berisi foto-foto korban. Dia memperhatikan bekas jahitan di tubuh korban dan menyamakannya dengan entah benda apa di meja.

Dr. Oh masuk sambil marah-marah di telepon. Dia menolak melakukan wawancara dan berkata lebih baik menyelamatkan pasien saja.

Dr. Oh menghampiri kedua tamunya dan minta maaf karena sudah membuat mereka menunggu. Se Yeon bilang tidak apa.

Dr. Oh menanyakan maksud kedatangan mereka.

Se Yeon menunjukkan foto yang tadi sempat dilihatnya. Dr. Oh mengenalinya begitu melihat jahitan di tubuh korban.

Belum sempat dr. Oh memberikan jawaban, seorang suster masuk dengan panik dan memberitahukan kedatangan pasien pindahan dari Rumah Sakit Jin Song.

Setelah dr. Oh pergi, Se Yeon berkomentar.

Cha Min pergi dari bandara dengan langkah lunglai. Dia sudah bertanya ke beberapa petugas bandara, tapi tidak ada Jang Hee Jin di daftar penumpang. Sekalinya ada, dia bukan Jang Hee Jin yang Min kenal.

Di suatu tempat, tampak kertas berceceran di lantai dan meja. Seorang pria duduk sambil menulis sesuatu di kertas.

Aku akan menghukumnya dengan tanganku sendiri.

Ji Wook memaksa ingin mengantar Se Yeon pulang karena hujan dan juga Se Yeon tampaknya mabuk. Se Yeon berkeras tidak mau di antar. Dia memanggil taksi.

Taksi datang. Se Yeon masuk ke dalam taksi tanpa mempedulikan kekhawatiran Ji Wook. Se Yeon membuka jendela taksi.

Ji Wook meminta sopir mengantar Se Yeon ke 12-7 Chungdang-dong. Dia juga membayarkan ongkos taksi untuk Se Yeon. Se Yeon tidak terima. Dia mengambil uang yang diberikan Ji Wook lalu melemparnya.

Ji Wook yang masih khawatir akhirnya memasukkan payungnya ke dalam taksi. Se Yeon yang mabuk memuji perilaku Ji Wook.

Cha Min menelepon Se Yeon. Sepertinya dia sedang berada depan rumah Se Yeon. “Kamu dimana? Kapan kamu pulang?”

Cha Min mulai kesal. “Apa aku pelayanmu? Hei! Aku bukan orang yang sama lagi. Berhenti bicara omong kosong dan pulang! Paham?” Min memutus teleponnya.

Meskipun tadi kesal, tapi Min beli juga itu obat pengar buat Se Yeon. Kasirnya terus memperhatikan wajah Min yang menurutnya sangat tampan.

Se Yeon turun dari taksi. Dia berjalan menuju rumahnya. “Ayolah. Ada apa dengannya? Dia berisik dan memintaku pulang cepat. Dia lalu kesal melihat seorang pria yang memakai jas hujan dan sedang menumpuk kardus bekas di teras.

Se Yeon melempar payungnya lalu rebutan kardus dengan pria tadi. Dia terjatuh sampai tasnya terlempar saat pria itu tidak sengaja mendorongnya.

Bapak itu membantu Se Yeon membereskan isi tasnya yang berceceran. Tampak seseorang yang memperhatikan mereka.

Cha Min berjalan menuju rumah Se Yeon sambil menteng kantong plastik berisi obat pengar.

Cha Min kaget melihat seseorang tergeletak di jalanan (kayaknya bapak yang tadi ngunpulin kardus). Dia menghampiri orang itu dan menanyai keadaannya. Karena tidak ada jawaban, Min membalik tubuh orang itu dan langsung terkejut.

Min langsung menelepon polisi. Dia melihat orang tadi menggerakkan kepalanya sedikit. Min mencoba memeriksanya lagi. Dia memeriksa nafas orang itu. Tapi sepertinya orang itu sudah meninggal.

Se Yeon mengintip melalui jendela.

Se Yeon duduk di ranjang. Se Yeon lantas tiduran karena ngantuk. Dia sempat mengirim pesan teks pada Cha Min.

Aku tidak mengunci pintunya. Masuklah dan bangunkan aku.

Se Yeon pun tidur.

Di tengah hujan yang terus mengguyur malam, Cha Min panik karena orang yang tergeletak di jalan tidak bernafas. Dia menghubungi layanan darurat untuk minta pertolongan.

Min yang bingung mau melakukan apa, mencoba menekan dadanya untuk memacu jantung pria itu. Bola abyss di saku celananya menyala. Cha Min mengambilnya. Dia ingat kalau bola abyss itulah yang membuatnya hidup kembali.

Min mencoba menepuk-nepuk bola abyss, tapi tidak beraksi. Lalu dia memutar-mutar bola itu di atas dada orang itu. Ponselnya berdering. Ambulance yang tadi dia telepon menanyakan lokasi Cha Min.

Cha Min mengambil payungnya dan meninggalkan bola abyss di samping orang yang tergeletak. Abyys itu bercahaya dan muncul tulisan hangul dari abyss itu.

Sebuah abyss bisa membangkitkan apa pun yang mati.

Abyss terbang dengan sendirinya mengikuti Cha Min. Dan sepertinya abyss itu masuk sendiri ke saku celana Min.

Min menghadang mobil ambulance yang baru tiba di jalan dekat gang. Dia menyuruh petugas untuk bergegas karena orang yang tergeletak tampaknya tidak bernafas. Min mengantar petugas iu ke tkp. Tapi anehnya, orang yang tergeletak tadi sudah tidak ada. Yang ada hanya kantong plastik Min yang berisi obat pengar. Min jelas keheranan melihatnya.

Petugas ambulance jadi kesal karena mengira Min sengaja mengerjai mereka.

Petugas mendapat kabar ada kecelakaan mobil. Sebelum pergi, petugas itu memeriksa kantong plastik Min. Melihat obat pengar, petugas yakin kalau Cha Min sedang mabuk. Dia menyuruh Min minum obat itu lalu tidur.

Min kebingungan sendiri dengan apa yang baru saja dia alami. Dia melihat ke sekeliling mencari keberadaan orang tadi.

Cha Min memutar balik langkahnya. Tiba-tiba sebuah taksi melesat di depannya. Min hampir saja tertabrak. Beruntung dia hanya jatuh terjungkal. “Hei! Dia hampir menabrakku. Tidak bisa di percaya,” gerutu Min. Dia melihat kemejanya yang basah kuyup. “Ah! Berapa banyak kemeja yang ku rusak hari ini?” Min berdiri dan mengambil ponselnya yang tadi terjatuh saat hampir tertabrak. Nasib sedang tidak memihaknya. Ponselnya mati.

Cha Min mendatangi rumah Se Yeon. Melihat lampu kamar Se Yeon yang menyala, Min bisa tahu kalau si pemilik rumah sudah pulang. Karena ponselnya mati, akhirnya Min berteriak memanggil Se Yeon. “Hei! Ko Se Yeon!”

Tiba-tiba lampu kamar Se Yeon padam. Min mengira kalau Se Yeon kesal karena dia terlambat. Min mencoba memanggil Se Yeon sekali lagi. Tapi tetangga Se Yeon memarahinya. “Hei! Jangan berteriak malam-malam!”

Cha Min minta maaf. Tapi dia malah memanggil Se Yeon lagi. Kena omel lagi deh Cha Min. Namun dia keras kepala. “Ku tinggalkan minuman. Minumlah sebelum tidur!”

“Hei!” omel tetangga Se Yeon.

Min meletakkan obat pengar di tangga. “Maaf! Aku pergi.”

Seseorang melihat kepergian Min dari balik tirai jendela kamar Se Yeon.

Keesokan harinya, det. Park bersama beberapa petugas memeriksa rumah Se Yeon.Ji Wook juga ada di sana. Det. Park menghampirinya. “Jaksa Seo. Bagaimana ini bisa terjadi?”

Det. Park mengantar Ji Wook ke kamar Se Yeon.Di sana, Se Yeon yang sudah tidak bernafas tampak duduk bersandar di tembok dengan baju berlumuran darah,

Det. Park mengiyakan. Ji Wook melepas jasnya lalu memakaikannya pada Se Yeon. “Kamu berhasil mengidentifikasi tersangka?”

Cha Min datang ke kantor jaksa tempat Se Yeon bekerja. Dia ke resepsionis untuk menunjukkan kartu identitas dan mengisi formulir. Min mengambil ktp-nya dan baru baru ingat kalau dia sudah berbeda sekarang.

Min mengejar mereka. “Permisi. Apa yang barusan kamu katakan?”

Cha Min berlari ke rumah Se Yeon yang ramai oleh polisi dan tetangga yang menonton. Min berhenti di bawah rumah Se Yeon. Dia menatap ke atas dengan pandangan nanar. Min mengingat apa yang dia lakukan di depan rumah Se Yeon semalam. Matanya berkaca-kaca. “Aku ada di sana semalam. Aku ada di luar. Aku juga melihat lampunya mati. Aku,,, aku seharusnya masuk.”

Cha Min mulai menangis. Dia terduduk di tanah sampai orang-orang keheranan melihatnya. “Seharusnya aku masuk.” Orang-orang jadi kasihan melihatnya.

Bibi memasukkan selimut ke dalam mesin cuci. Dia terkejut melihat baju Cha Min yang berlumuran darah di ember pakaian. “Apa ini? Astaga!”

Cha Min pulang dengan wajah murung. Dia duduk di sofa dengan pandangan kosong. Bibi menghampirinya.

Belum selesai bicara, mereka kedatangan tamu. Ternyata det. Park yang datang bersama seorang rekannya. Dia ingin menemui Cha Min. Cha Min buru-buru memakai sepatunya. Bibi yang cemas menanyakan keberadaan dan kondisi Cha Min. Min memintanya untuk tidak cemas. “Bibi. Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan. Aku jelaskan nanti.”

Bibi keheranan karena Min memanggilnya bibi. “Bibi? Aku?”

Cha Min berjalan cepat di koridor. Dia memakai topi hitamnya. Min menunduk saat berpapasan dengan det. Park dan temannya.

Cha Min menyewa sebuah kamar hotel. Dia tiduran di sofa sambil minum. Matanya terlihat sembab. Televisi yang dia tonton menyiarkan konferensi pers yang dilakukan Ji Wook perihal pembunuhan Se Yeon dengan tersangkanya adalah Cha Min yang di sebut Ji Wook telah membuntuti Se Yeon selama bertahun-tahun.

Det. Park menanyai resepsionis di hotel tempat Min menginap. “Halo. Kami polisi. Apa pria bernama Cha Min menyewa kamar di sini?”

Resepsionis meminta mereka menunggu karena akan memeriksanya dulu. Kebetulan Min baru turun. Dia melihat det. Park dan buru-buru pergi dari sana. “Astaga! Bagaimana mereka tahu aku ada di sini?” gerutu Min.

Beberapa waktu kemudian, Min membayar tagihan makanannya di sebuah kedai dengan menggunakan kartu kredit. Det. Park langsung bisa melacaknya. Dia berpapasan dengan Cha Min yang baru saja akan keluar dari tempat itu.

“Hei! Permisi anak muda! Bisa bicara denganmu?”

Min menoleh. “Ya.”

Min mengangkat topinya. Det. Park memeriksa wajahnya lalu minta maaf karena Min bukan orang yang di carinya. Cha Min pun pergi. Dia melewati dua detektif yang berjaga di luar.

Min tertegun mendengar percakapan mereka. Dia pergi ke pemakaman Se Yeon. Dia menatap foto Se Yeon dengan sedih. Kebetulan jasad Se Yeon baru di antarkan ke sana.

Keluarganya menangisi kepergian Se Yeon. Ayah Se Yeon mengeluarkan sebuah gelang lalu meletakkannya di atas tangan Se Yeon. Gelang itu bertuliskan ‘dear Se Yeon’.

Di satu musim semi, Se Yeon baru keluar dari kampusnya. Banyak pria sudah menunggunya di luar dengan buket bunga di tangan masing-masing. Salah satu dari mereka adalah Cha Min.

Se Yeon mengaku kalau dia sudah punya seorang pria. Dia lalu memanggil ayahnya. Sontak para pria langsung mengerumuni Se Yeon dan ayahnya. Mereka bahkan memanggil ayah Se Yeon dengan sebutan ayah mertua.

“Seharusnya ayah tidak datang kesini.”

“Bicara apa? Ayah tidak sebanding dengan mereka semua.”

Ayah memberikan sebuah kotak sebagai hadiahnya untuk Se Yeon. Isinya adalah gelang yang dibawa ayah Se Yeon di pemakaman. Se Yeon meminta ayahnya memakaikannya di tangannya. Para pria sontak menyoraki ayah Se Yeon. “Ayah mertua! Ayah mertua!” Se Yeon dan ayahnya tertawa bahagia.

Ibu Se Yeon tak henti-hentinya menangisi anak perempuannya. Ayah berusaha menenangkannya. “Ayolah sayang. Biarkan dia beristirahat dengan tenang.”

“Putriku Se Yeon. Aku tidak bisa merelakannya.” Ibu Se Yeon terus meraung. Dia akhirnya pingsan. Ayah dan seorang kerabat memapahnya keluar diikuti kerabat yang lainnya. Dua petugas hendak menutup petinya. Tapi tutupnya malah tidak ada. Mereka pun keluar untuk mencarinya. Mereka berpapasan dengan Cha Min yang hendak masuk. Min minta ijin untuk berpamitan pada Se Yeon.

Cha Min membuka topinya begitu masuk ke dalam. Dia menatap Se Yeon.

Tiba-tiba Cha Min tersentak merasakan sesuatu di tempat duduknya. Bola abyss di sakunya menyala. Min mengambilnya. “Apa maumu? Kamu tidak berfungsi!” keluh Min hendak melempar abyss itu. Min mengurungkannya.

Min menatap Se Yeon yang masih tidak bereaksi. Dia marah.

Petugas yang tadi masuk membawa tutup peti mati. “Kamu sudah selesai berpamitan?”

“Ya. Terimakasih.” Min memakai topinya kembali lalu pergi.

Petugas memasangkan tutup peti, tapi ternyata tidak pas. Mereka pun pergi lagi untuk mencari tutup yang pas. Mereka tidak menyadari kalau peti matinya kosong. Se Yeon tampak duduk di samping peti mati.

Cha Min menangis sendirian di halte bis. Hujan turun mengguyur bumi Korea. “Se Yeon-a,,,,” tangis Min.

Seorang wanita berambut pendek dengan gaun putih sama persis seperti yang dipakaikan di jasad Se Yeon, berjalan ke halte itu. “Astaga! Dingin sekali. Di mana aku? Apa yang ku pakai?”

Min masih belum berhenti menangis.

“Aku harus berhenti minum,” keluh si wanita. Dia menoleh dan melihat Cha Min yang sedang menangis sesenggukan. “Permisi. Boleh aku pinjam ponselmu?”

Min mendongak. “Apa?”

Wanita itu melihat mata Min yang sembab. “Maaf. Kurasa kamu sedang sedih.” Wanita itu sepertinya mengenali Min. Dia duduk di samping Min. “Apa kita pernah bertemu?” Min diam saja. “Oh! Kamu pria yang mencuri kemejaku.”

Seseorang (orang apa bukan?) terlihat sedang memaku tutup peti mati Se Yeon.

Min berjalan di tengah guyuran hujan dengan payung hitamnya. Wanita tadi menyusulnya dan ikut berteduh di bawah payungnya.

Min menghentikan langkahnya. “Ke arah mana?’

Wanita itu menunjuk arah kanannya. Min langsung pergi ke arah kiri. Wkwk. Wanita itu menyusul Min lagi. “Permisi. Aku tidak biasanya menempel. Tapi kabur dengan kemeja orang lain juga termasuk mencuri.”

Tiba-tiba Min berhenti berjalan. Dia tertegun melihat keluarga Se Yeon yang mengiringi pemakaman Se Yeon. Anehnya, wanita yang bersama Min tiba-tiba menangis. Dia berjalan menembus hujan menghampiri keluarga Se Yeon.

Ayah Se Yeon mendorong wanita itu yang seperti kita tahu, dia adalah Se Yeon yang sudah berubah wujudnya.

Se Yeon tambah tersedu. “Ayah membuatku takut. Hentikan,” ujar Se Yeon mendekati ayahnya. Ayah tidak mempedulikannya dan menyuruh petinya di masukkan ke mobil. Se Yeon kebingungan dengan apa yang terjadi.

Dia berusaha menghalangi peti matinya tapi ayah mendorongnya. Hingga Se Yeon melihat bayangan dirinya di kaca mobil. Dia sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Tiba-tiba sebuah tangan menariknya.

Min membawa Se Yeon ke tempat yang sepi. Se Yeon terus meronta minta di lepaskan. “Lepaskan! Aku akan katakan Ko Se Yeon belum mati.”

Min melepaskan Se Yeon. “Aku tahu ada apa. Tenanglah!”

“Kamu tahu apa?”

Min memegang pundak Se Yeon. “Aku tahu semuanya. Akulah, yang menghidupkanmu.”

Min menunjukkan bola abyss. “Dengan ini.” Abyss itu bercahaya dan ada tulisan yang muncul. ‘Abyss menghidupkan yang mati menjadi bentuk jiwanya’. “Kamu, Ko Se Yeon kan?”

Se Yeon menatap Min. “Siapa kamu? Kamu hantu? Atau malaikat pencabut nyawa?”

“Ini aku. Cha Min, jawabnya.”

Selanjutnya di Sinopsis Abyss Drama Korea Episode 2

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

two − 1 =