Beranda Sinopsis Sinopsis One Spring Night Episode 5

Sinopsis One Spring Night Episode 5

Sinopsis One Spring Night Episode 16 Drama Korea
Sinopsis One Spring Night

Topnes.net – Sinopsis Drama Korea One Spring Night Episode 5, One Spring Night di episode sebelumnya, Jung In meminta Eun Woo menebak. Eun Woo langsung melihat ayahnya dan bertanya siapa Jung In.

Tapi Jung In menyuruh Eun Woo menebak sendiri. Dan tanpa di duga, Eun Woo menebak, “Ibu?”

Jung In tertegun mendengarnya. Sementara Ji Ho memandang ke arahnya.

Lanjutan Sinopsis One Spring Night Episode 5, Jung In tertegun Eun Woo mengira dia ibunya. Ji Ho langsung merasa tidak enak. Dia bicara pada Eun Woo.

Jung In menunjukkan buku dinosaurus yang sudah dia siapkan sebelumnya. “Lihatlah! Aku punya banyak. Astaga, lihatlah berbagai macam dinosaurus ini.” Jung In menyuruh Eun Woo memegang buku itu.

Ji Ho lalu berdiri dan menatap Ji Ho. Ji Ho yang salah tingkah langsung memuji buku di tangan Eun Woo.

Ji Ho pura-pura tidak dengar. “Yang ini apa?” tanyanya pada Eun Woo.

Ji Ho masih pura-pura tidak dengar. “Kalau yang ini?”

Jung In hanya bisa tersenyum. Beberapa saat kemudian dia dan Ji Ho bicara berdua.

Ji Ho tertegun. Ji Ho diam menatap Jung In. Jung In menatap Ji Ho sinis. “Minta maaflah padanya.”

Jung In pergi dan dadah pada Ji Ho.

Young Jo yang entah dari mana tampak mengamati ruang membaca anak-anak. Dia sepertinya melihat Ji Ho.

Lalu dia menghampiri Jung In yang sedang menunggu lift terbuka.

Jung In jujur. “Dia si apoteker itu.”

“Oh benar.” Young Jo menatap Jung In. “Bagaimana kamu bisa kenal?”

Jung In diam sejenak lalu menjawab kalau Ji Ho alumnus kampus GI Seok.

Young Joo bilanng Jung In tidak seperti biasanya akhir-akhir ini. Mereka masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.

Ji Ho menemani Eun Woo. Dia meminta Eun Woo melihatnya lalu meminta maaf atas kejadian tadi.

Ji Ho tersenyum lalu mengelus sayang kepala Eun Woo.

Seo In mengambil surat-surat di kotak surat yang semuanya untuk Nam Shi Hoon, suaminya. Shi Hoon sendiri sedang bersama temannya bermain golf digital.

Mereka membahas acara reuni alumni yang akan diadakan di hotel dan Shi Hoon berencana menyumbangkan sepuluh juta won karena temannya memperovokasi kalau kakak dan kakak ipar Shi Hoon menyumbang 5 juta won. Temannya tersenyum senang.

Seo In meneleponnya memberitahukan perihal surat-surat untuk Shi Hoon.

Shi Hoon tertawa. “Kamu sibuk berpikir ya? Kamu memanfaatkan orangtuaku? Baik, silahkan saja. Aku penasaran kamu mau bilang …”

Gi Seok sedang bersama Hyun Soo mengendarai mobil. Hyun Soo bertanya kapan Gi Seok akan berkencan.

Gi Seok tersenyum mendengarnya. “Sebaiknya jangan berkencan terlalu lama.”

Menurut Hyun Soo Gi Seok dan Jung In bak pasangan yang sudah menikah. Gi Seok menatapnya. Dia mengoreksi ucapannya.

Gi Seok tertawa. “Yang benar saja.”

Gi Seok terdiam memikirkan perkataan Hyun Soo.

Jung In mendata buku-buku di lantai atas. Dia lalu turun ke ruang baca anak-anak dan mencari Eun Woo dan Ji Ho tapi mereka sudah tidak ada. Jung In sepertinya mengirim pesan pada Ji Ho.

Ji Ho memasangkan sabuk pengaman untuk Eun Woo. Dia menatap gedung perpustaan sejenak lalu melihat ponselnya.

Dia kembali melihat ke arah perpustaaan kemudian masuk ke mobil. Sambil menyetir, Ji Ho bertanya pada Eun Woo kenapa saat di perpustakaan Eun Woo bertanya apa Jung In ibunya. Eun Woo tampaknya mengatuk. Ji Ho memintanya melihatnya.

Eun Woo takut diomeli. Eh Eun Woo-nya malah tidur.

Ji Ho membaringkan Eun Woo di ranjang. Ibunya masuk dan berkata kenapa Ji Ho membelikan Eun Woo buku lagi sementara banyak buku yang belum dia baca.

Ibu meminta Ji Ho mengikutinya sebelum keluar. Ji Ho duduk di samping Eun Woo dan memandangi putranya.

Di luar, ayah membantu memasangkan koyo pada lengan ibu. Ji Ho keluar dan bergabung mereka.

Ji Ho bertanya apa Eun Woo pernah membahas soal ibunya.

“Ibu apa? Ibunya? Kenapa? Dia bilang sesuatu?” tanya Ibu.

Giliran ayah yang menjawab. “Dia tidak pernah menanyakan hal semacam itu.”

Ibu bertanya ada apa.

Ibu bilang tidak perlu disembunyikan. Saat Eun Woo sudah lebih tua, ceritakan semuanya. Ayah tidak setuju. Menurut ibu itu lebih baik dari pada mereka membohonginya.

Ibu kesal. “Kenapa tidak sepenting itu? Kamu tidak bisa terus melajang. Bahkan ada yang mencampakkan anaknya. Jadi kamu masih lebih baik.”

Ibu bertanya apa Ji Ho mencintai anaknya? Ibu juga mencintai anak ibu. Ayah meminta Ibu berhenti dan menyuruh Ji Ho pulang.

Ayah menyela Ji Ho.  Ayah mengantar Ji Ho ke depan. Ji Ho bilang akan kembali di akhir pekan.

Ayah menyuruhnya untuk menjalani kehidupannya dan tidak perlu selalu ke sana.

Di tangga, Young Joo yang baru keluar berpapasan dengan Ji Ho yang baru pulang.

Jung In melihat masker yang dia beli di apotek saat tidak sengaja kepergok Ji Ho. Dia tersenyum lalu memakai masker itu. Jae In berkomentar kalau selebritis saja tidak memakai itu di dalam ruangan.

Jung In melepas maskernya. Jung In memberitahu kalau Seo In tahu Jae In di Korea.

Jae In menggerutu kalau kakak-kakaknya selalu membicarakannya di belakangnya.

Jung In bertanya kenapa Jae In tidak pernah menyukai Shi Hoon.

Jung In tampak memikirkan ucapan adiknya. Ponselnya bergetar. Ada pesan dari Ji Ho.

Jung In tersenyum membacanya. Diam-diam Jae In memotretnya.

Jae In menunjukkan hasil jepretannya dan tertawa.Jung In memakai pelembab di wajahnya. Dia lalu tersenyum.

Shi Hoon baru sampai di tempat kerjanya. Salah seorang pegawainya memberikan surat pemberitahuan soal sewa bulan ini.

Shi Hoon mengambil surat itu lalu masuk ke ruangannya. Dia tampak menelepon rekannya yang pengacara perceraian.

Shi Hoon bertanya rumahnya bisa dia apakan. Propertinya atas nama Seo In juga. Akankah sulit menjualnya?

Temannya bilang itu tidak rumit. Memangnya Shi Hoon mau bercerai. Shi Hoon beralasan kalau dia akan pindah ke rumah yang lebih besar. Dia mau menjualnya sendiri karena istrinya sibuk.

Seo In menghadap atasannya. Katanya akan ada acara baru yang tayang bulan depan dan Seo In akan jadi pewarta tunggal.

Target usia penontonnya adalah pria dan wanita paruh baya. Menurutnya Seo In punya kesan ramah dan bersih.

Seo In sepertinya bimbang. Atasannya bilang kesempatan seperti ini jarang.

Seo In masuk ke ruangan wardrobe dan terlihat galau. Dia mendapat telepon dari agen real estate yang bertanya kalau apartemen Seo In digunakan sebagai jaminan untuk utang kepada pihak bank, jadi.

Seo In membenarkan. Pihak real estate menanyakan berapa harga yang Seo In mau untuk menjual unit apartemennya. Seo In bilang akan membahasnya dengan suami lebih dulu.

Seo In menatap dirinya di cermin. Dia tampak gundah dan frustasi.

Young Joo mencari Jung In di perpustakaan dan menemukannya sedang menyusun buku di rak. Dia terus menatap Jung In.

Young Joo merebut buku di tangan Jung In. Jung In mengambinya kembali. “Kamu ini sedang apa?”

Jung In menatap temannya.

Gantian Young Joo yang menatap Jung In serius. “Sebab hanya bisa begitu? Astaga Lee Jung In. Kamu daam masalah besar. Itu tidak benar.” Young Joo tengok kanan kiri. “Lupakan bahwa aku tahu,” katanya lalu pergi.

Ji Ho sedang memeriksa obat-obatan. Hye Jung memberitahunya kalau dia kedatangan tamu. Ternyata Gi Seok.

Ji Ho bertanya kenapa Gi Seok kesana.

Ji Ho manggut-manggut dan meminta Gi Seok menunggu.

Begitu berbalik, Ji Ho menghela nafas.Ye Seul, pegawai apotek, mempersilahkan Gi Seok untuk duduk. Gi Seok bilang pada Ji Ho kalau harga bukan masalah, jadi sarankan obat yang bagus. Dia lalu tertawa.

Ji Ho tersenyum mengiyakan. Tapi saat berbalik, wajahnya tampak tidak nyaman. Kok aku ngerasanya Ji Ho agak kesal gitu. Dia kayak setengah hati ngelayanin Gi Seok,

Ji Ho mengantar Gi Seok ke parkiran dan menawarinya makan malam dulu.

Ji Ho tidak masalah. Gi Seok mengajaknya bercengkerama selain di lapangan basket lain kali atau minum dengan Hyun Soo. Dia yang traktir.

Ji Ho pamit pulang pada rekan kerjanya. Mereka mengomentari wajah Ji Ho yang murung.

Hye Jung mengenal semua sahabat Ji Ho tapi belum pernah melihat Gi Seok. “Aneh,” katanya.

Ji Ho pulang berjalan kaki. Dia melewati kafe tempat dia dan Jung In mendeklarasikan pertemanan mereka. Ji Ho sempat berjalan begitu saja namun kemudian kembali dan masuk ke kafe.

Dia memesan segelas kopi. Wajahnya tampak galau. Dia menatap keluar jendela dengan pandangan sendu.

Selanjutnya di Sinopsis One Spring Night Episode 6

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

nineteen + thirteen =